Ini bukan soal usia, soal seberapa banyak pengetahuan, seberapa banyak
pengalaman tapi soal seberapa lama kita pada posisi tertentu dalam
sebuah komunitas, seberapa duluan kita masuk dalam sebuah hirarki dan
yang datang belakangan harus siap menjadi yunior seberapapun banyak
pengalaman, pengetahuan dan apapun itu.
Pelajaran menarik yang dalam interaksi senior dan yunior. Adalah Kepatuhan.
Patuh. seberapa nyamankah senior membuat sang yunior patuh pada
aturannya? Seberapa hebatkah sang senior untuk harus dipatuhi? Seberapa
terhormatnya sang senior untuk harus dihormati?. Tapi bagaimana menanam
rasa nyaman itu?
Kepatuhan bukan sesuatu yang lahir dari
doktrin tentunya tapi lahir dari sebuah interaksi hati saling percaya,
saling menerima, saling mendukung, saling menghormati, saling memberi
masukan, saling mendengar. Karena kepatuhan adalah komunikasi timbal
balik bukan searah.
Wah, susah juga jadi senior maupun yunior kalau kata ‘’saling’’ sudah tidak menyelinap di sanubari masing- masing.
senior memang harus dihormati dan dikritik. Yunior harus patuh pada
senior tentunya untuk hal – hal yang baik. Posisi kita pada predikat
senior dan yunior tidak terlalu penting. Karena itu hanyalah label.
Pribadi kitalah yang harus mengisi label itu dengar kadar agar
berkualitas. kadar kualitas itu adalah serangkaian kesederhanaan dan
kejujuran sikap. boleh jadi kapasitas yunior lebih hebat dari Senior
tapi yunior akan selalu menghormati seniornya dan kalaupun seniornya
lebih hebat dari yuniornya sikapnya akan selalu menghormati yuniornya.
Tapi tidak semua punya sikap seperti itu kan? pastikan kita yang harus punya sikap seperti itu :)
Jumat, 05 September 2014
Sabtu, 30 Agustus 2014
Tetap cantik :)
Apa definisi cantik? Cantik adalah kondisi jiwa, raga dan
fikiran yang terawat. Tentu tidak harus
mahal kan, yang terpenting adalah selalu rutin. Waktu pulang kuliah teman –
teman seangkatan banyak yang sudah menggenapkan separoh diennya dan punya anak. Aktifitas rumah yang banyak dan tak berjeda apalagi kondisi hati yang
tidak karuan sangat meninggatkan stress.
Sebenarnya menjadi tetap cantik bukan mengingkari
keniscayaan tetapi merawat diri adalah salah satu kesyukuran diri yang masih diberikan Allah kesempatan usia. Menjadi tua sudah pasti, tapi pastikan
perawatan diri harus menjadi kebiasaan.
Kebiasaaan merawat diri harus segara dimulai. Karena kebiasaanlah
yang membuat segalanya menjadi ringan. Yang perlu diingat merawat diri tidak
harus mahal.
Harus punya aktifitas unggulan agar selalu cantik.
1.
Biasakan
olahraga. Olahraga yang bisa
dikerjakan secara rutin. Harus rutin yah, karena akan berdampak pada kesegaran
tubuh. Bertambah usia akan menyebabkan tubuh akan sering lelah.
2.
Biasakan minum air putih. Nasehat klasik tapi
sangat ampuh. Menjaga kelembaban tubuh
dan meningkatkan konsentrasi.
3.
Biasakan
makan buah – buahan. Selain sebagai asupan vitamin berfungsi
menghaluskan kulit.
4.
Sebelum tidur dimalam hari, bersihkan kamar, berwudhu,
menggunakan lotion (malam), minum segelas air putih, perawatan di malam hari
sangat membantu regenerasi kulit, berdoa lalu tidur deh. :)
5.
Waktu tidur sebenarnya relative. Tapi tidurlah
lebih awal agar bisa melakukan sholat malam.
6.
Sholat malam. Banyak khasiat sholat malam
diantaranya, melapangkan hati. Kelapangan hati ini sangat diperlukan karena
banyak aktifitas hidup yang mengeruhkan hati. Hati yang sempit akan membuat
kita mudah marah, iri, dengki, sombong, hasad, ujub. Sehingga sholat malam
membantu kita menyembuhkan penyakit hati.
7.
Jangan lupa baca alquran.
8.
Biasakan juga membaca. ;)
9.
Biasakan beristigfar.
Cantik adalah kondisi jiwa, raga dan
pikiran yang terawat, untuk itu harus punya aktifitas unggulan yang menjadi
kebiasaan. Pilihlah aktifitas yang kita senangi jangan terlalu membebani diri Rosulullah
menyukai amalan yang sedikit tapi berkelanjutan. J
Trus Apa?
Ilmu Allah begitu
luas jikalau air laut menjadi tintanya dan akar – akar pohon menjadi penanya
tidak akan mampu menuliskannya.
Setiap orang punya cara sendiri mencari, menikmati dan
menggunakan pengetahuannya. Kalau aku harus mengejar apa yang berkecamuk dihati,
sudah aku dapatkan. Tapi kalau sudah mendapatkan
semua itu, trus apa? Buat apa?
Setiap hari kita akan
merajut cerita dari bangun tidur mulai dari membersihkan ruang kamar, ruang tamu, dapur,
lalu memasak, bertemu dengan orang,
menerima telepon, membalas Sms hingga ritual akan tidur mulai dari membersihkan
tempat tidur, berwudhu lalu memakai lotions saat tidur Melakukan semua itu terus apa? Untuk apa?
Buat apa?
Banyak hal yang sudah dipelajari dari membaca, browsing internet,
berita tv, mendengar radio, membuat kue, berdiskusi dengan teman, bahkan
memperhatikan lingkungan sekitar, belajar merajut, kursus bahasa, sekolah,
kuliah bahkan hingga yang paling tinggi tingkatannya terus apa?untuk apa? Buat
apa?
Untuk apa melakukan semua itu? toh semua orang juga
melakukan hal yang sama. Ada orang yang berfikir keras menjalani hidup ini, ada
yang membiarkannya berjalan bagai air yang mengalir, ada yang harus
mempertahankan hidupnya, ada yang mencari tahu arti kehidupannya. Bagiku
menjalani hari – hari bagi setiap orang akan terlihat sama saja namun yang
membedakannya adalah cara berfikirnya lalu terlihat dari gaya hidup dan cara
dia menjalani kehidupannya.
Ada orang yang senang hidup biasa – biasa saja, ada orang
yang hidup penuh dengan mimpi – mimpinya, ada yang orang senang hidup menyendiri.
ini soal cara
berfikir – pilihan – gaya hidup. agar
‘’Trus Apa?’’,bisa punya jawabannya.
Saya berfikir bahwa Hidup ini tidak hanya soal yang penting
bisa kuliah, bekerja, berkeluarga lalu punya penghasilan lalu bersedekah.
Tapi, yang lebih penting adalah trus belajar memperbaiki
diri.
Kalau sudah memperbaiki diri terus apa? Bagi orang yang
beriman kehidupan ini akan di pertanggngjawabkan di hari akhir.
Kecil Besar Jauh Dekat
Kalau jalan seribu langkah dimulai dari langkah pertama.
Berarti untuk menuju sesuatu yang besar
harus di mulai dari sesuatu yang kecil. Untuk jadi orang yang besar saya
harus siap mengerjakan hal- hal yang kecil terlebih dahulu, karena jika
hal yang kecil dianggap remeh mana
mungkin bisa menghargai sesuatu yang
lebih besar, apalagi mengerjakannya. selain itu, agar lebih memaknai arti memiliki. agar fondasi
pengetahuan tentang Sesuatu menjadi kokoh.
Kadang saya mencari kebahagian di luar melalui orang –
orang, lingkungan dengan segala kesenangan dunia mereka, tapi saya salah, kebahagian itu tidaklah jauh tapi di dalam keluarga sendiri.
Kadang saya mencari ketenangan, ketulusan pada setiap orang yang saya temui, tapi saya
salah ketenangan dan ketelusan itu
tidaklah jauh tapi dalam didalam
hati. Hati saya sendiri.
Kadang – kadang memang harus sedikit tidak berfikir tentang
kesuksesan dan kegagalan karena dua hal
ini membuat saya harus berfikir berat dan merasa terbebani. Padahal kesuksesan
dan kegagalan adalah kesederhanaan
berfikir, tentang hal ringan dan sederhana apa yang telah saya usahakan pada
diri sendiri tentunya, setelah itu
membawa manfaat pada lingkungan sekitar.
Kadang saya sudah pikir yang besar rumit dan jauh pula.
Ternyata semua itu sudah ada didekat saya.
Kadang – kadang kalau kita sudah menerima, mengerjakan hal -
hal yang sederhana dengan baik. siap – siap saja, kita akan dihadapkan pada
hal-hal besar dan rumit juga. Seperti menaiki tangga, tangga kehidupan kecil
besar, jauh dekat.
Selasa, 26 Agustus 2014
Arrijaal buat Nisa
Ada dosen yang sangat menginspirasi diriku. Beliau mendapatkan teman hidup yang sama – sama masih
tetap mempertahankan kebiasaan dimasa kuliah sampai menikah dan punya anak.
saya ingin seperti keluarga beliau jika punya teman hidup nanti.
Bahwa ketika sampai pada usia pernikahan ternyata masih
banyak orang – orang secara biologis memang sudah matang namun usia mental
masih sangat labil.
Bahwa punya teman hidup tidak hanya sekedar status, atau
kecewa dengan orang lain lalu siapa saja bisa dijadikan teman hidup, memilih
teman hidup memang harus meluruskan niat.
Memilih teman hidup adalah awal menata kehidupan baru.
Kehidupan panjang yang sangat membutuhkan perencanaan yang matang. Keluarga apa
yang hendak dibangun.
Ukuran ketampanan sangat relatif namun hubungan dengan Allah
dan hubungan sosial sedikit banyak bisa diukur. Buat saya teman hidup yang
keren itu adalah laki laki yang cara dia memandang sesamanya dan kehidupan ini dengan cara penyayang dan pelindung (dua diantara
asmaul husna Allah SWT) Karena dengan cara pandang itu laki laki akan
selalu berusaha menjadikan dirinya bermanfaat dari hari ke hari. Seperti
dalam surah An nisa.. Arrijalu qawwamuna
'alan-nisa, Laki –laki itu adalah
pelindung untuk perempuan. :)
Senin, 21 Juli 2014
Cerita itikaf Kak Candra.
Ini cerita tentang "#akucemburu"..
Mesjid raya makasar tak pernah sepi di 10 malam terahir ramadhan. Jamaah berbondong-bondong memenuhi mesjid.. bahkan di malam ganjil jamaah akan berdesak2an meluber hingga teras. Jamaah dr segala usia dan berbagai cerita..
Cerita tentang sang imam yg tak pernah absen memimpin sholat malam 15 tahun terahir. Aku "#akucemburu" pada bacaan alqurannya. Tartil. Pelan. Seolah bercerita.. "aku jatuh cinta padanya" imam yg tak pernah kutahu namanya usianya dan wujudnya padahal hampir 5 tahun terahir aku menghabiskan 10 malam terahir ramadhan di mesjid ini..
Pernah juga kutemui sepasang suamu istri.masih muda.. Kutebak pengantin baru.. yg "mojok" di balik pilar. Dengan senyum malu-malu saling bertukar cerita..ah.. "#akucemburu"
Banyak kutemui beberapa kelompok keluarga dengan ayah anak menantu bahkan cucu mereka, layaknya berpiknik.. Lengkap dengan rantang makanan. Berburu keutamaan ramadhan #akucemburu
Pada mereka. anak-anak berusia 3-8 tahun yang tertidur lelap disamping orang tuanya setelah lelah bermain.
Yang menarik.. pernah kutemui seorang ibu gaul (kuidentifikasi dari konde dan alis tipisnya) yg memanfaatkan moment itikaf untuk mentaarufkan anak gadisnya ( cantik dan ternyata masih muda 21 tahun) dengan pria pilihanya.. kutanya "kenapa bu?" Beliau menjawab dengan mantap "biar berkah. Saya tdk suka lihat anak saya pacaran, lebih cepat menikah lebih baik. Kuintip dibalik tembok dengan tatap #akucemburu anak gadisnya yg tertunduk malu dan pria (yg ternyata tampan juga) yg sesekali curi pandang dan sang ibu yg tak pernah berhenti berbicara mencairkan suasana #akucemburu
Di lain sisi kudapati ibu yg sedang khusyuk tilawah dan bayi yg masih mungil (kutaksir berusia 3 bulanan) lengkap dengan segala peralatan bayi disekitarnya. #akucemburu bahkan ketika melihat bayi tenang.. seolah menyimak bacaan ibunya..
Di bagian depan selalu dipenuhi barisan ibu2 sepuh..ada yg berkelompok ada yg sendiri. Lengkap dengan tas berisi pakaian dan peralatan makan.. bahu yg ringkih. Mata yg tak lagi awas. #akucemburu ketika mereka tak lelah berdiri khuyuk sholat tarawih 23 rakaat di malam hari ditambah sholat sunnah tahajud. Tasbih. tobat hajat. witir hingga 19 rakaat Pada sepertiga malam. "Sdh 3 malam menginap disini" ujarnya ketika Kusapa santun.. baru kusadari seorang nenek tua yg tak lagi kutemui tahun ini. Dimana dia?
#akucemburu pada gadis muda "tanpa jilbab" yg fasih bercerita dan bersemangat akan amalan sunnah. Sepertinya "hidayah untuk berhijab utuh" hanya soal waktu. Semoga..
Betapa bergetarnya hati ini ketika ratusan orang bertakbir dan berkhidmat bersujud dalam kegelapan malam. Tunduk.. Merapal doa2 yg sama untuk keberkahan bangsa indonesia.. untuk palestina dalam syahdu doa sang imam.
Malam ini dalam kegelapan syahdu
Disini ditempat yg sama selalu kupanjatkan doa yg sama
Semoga allah memberiku kesempatan untuk itikaf di masjidil haram. Aamiinn..
#noted.
Jika masyarakat awwam bersemangat itikaf berburu berkah ramadhan. Semoga demikian halnya saudara2ku yg disematkan sebagai "kader dakwah" didadanya..
Candra Budiarti
Rabu, 02 Juli 2014
:)
Ulang Tahun [part-1]
===================
Seandainya kamu dihadapkan pada dua pilihan, siapa yang lebih kamu pilih untuk menggenapi kehidupan kamu? Seseorang yang kamu cintai tapi dia tidak mencintai kamu, atau seseorang yang mencintai kamu tapi tidak kamu cintai?
***
Itu pertanyaan Mama sebelum Tuhan mempertemukan aku dengan kamu. Pertanyaan di masa sulit ketika aku bingung dan gelisah perihal jodoh yang tak kunjung tiba, padahal sudah dua kali aku gagal berproses dengan laki-laki yang aku harapkan bisa menggenapiku. Pertanyaan yang baru aku mengerti maksud dan jawabannya setelah hidup menggenap bersama kamu. Siapapun ingin menggenap bersama orang yang dicintainya, pikirku waktu itu. Jadi aku menjawab pilihan yang pertama; menggenap bersama seseorang yang aku cintai walaupun orang tersebut tidak mencintai aku. Dan Mama hanya tersenyum mendengar jawabanku.
“Kamu tahu, kebanyakan orang mengharapkan sosok yang ideal untuk menggenapi hidupnya. Sosok ideal yang biasanya menjelma menjadi seseorang yang dicintai atau seseorang yang diharapkan. Sayangnya, kita tidak hidup dalam dunia harapan. Kita hidup dalam dunia yang bernama realitas. Dan tidak semua harapan bisa hidup dalam realitas. Jadi jika semua perempuan berharap seorang laki-laki yang dicintainya akan menggenapinya, realitasnya tidak semua laki-laki yang diharpakan oleh perempuan, menikahi perempuan yang mengharapkannya. Nah, pertanyaan mama tadi adalah salah satu contoh kondisi yang tidak ideal, tapi ada banyak orang yang harus menghadapi realitas seperti itu.”
“Idealnya, sepasang laki-laki dan perempuan yang akan saling menggenapi memang sudah siap untuk saling mencintai sepanjang usia mereka. Tapi realitasnya, tidak semuanya seperti itu. Ada yang ngakunya saling mencintai sejak lama, tapi karena terlalu lama menjalin cinta sebelum menggenap, cintanya habis di tengah perjalanan, tidak sampai pada pelaminan. Ada yang sampai pelaminan, tapi tidak sampai sepanjang usia. Berpisah di tengah jalan. Mama hanya ingin bilang, kalau setiap orang akan mengalami kondisi tidak ideal dalam hidupnya, Sayang. Hanya bentuknya saja yang berbeda-beda. Kamu, tak terkecuali. Jadi tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Toh hidup bukan permasalahan ideal atau tidak, tapi tentang bagaimana kita menjalaninya.” Mama mencoba menghibur aku
“Kalau misalkan Mama yang berada pada kondisi seperti pertanyaan Mama tadi, mana yang akan Mama pilih?” aku balik bertanya penasaran.
“Menggenap bersama seseorang yang mencintai mama, walaupun mama tidak mencintainya.” Mama menjawab dengan tenang dan yakin, aku semakin penasaran dengan alasan Mama.
“Kenapa begitu, Ma?”
“Karena berusaha untuk mencintai orang lain, selalu lebih mudah daripada membuat orang lain mencintai kita, Sayang. Cinta itu adanya di hati. Hati yang merasakannya. Dan kita hanya bisa mengendalikan dan mengkondisikan hatinya kita, bukan hatinya orang lain. Seberapa besarpun usaha kita untuk membuat orang lain mencintai kita, pada akhirnya yang memutuskan apakah dia mencintai kita atau bukan ya dia, bukan kita. Hatinya yang merasakan, bukan hatinya kita. Sama halnya, jika ada seseorang yang melukai hati kita, membuat kita kecewa atau sederet perasaan menyakitkan lainnya, pada akhirnya, kita sendiri yang harus menyembuhkan luka itu. Tak perlu menunggu ucapan maaf, atau mengharapkan orang lain yang menyembuhkannya. Karena sekali lagi, yang bisa kita kendalikan adalah hati punya kita sendiri. Bukan hatinya orang lain.”
“Lagipula, cinta hanyalah salah satu bentuk perasaan yang ada di dunia ini. Bukan satu-satunya. Bahkan bisa jadi, ada perasaan lain yang jauh lebih penting daripada cinta, ada rasa lain yang lebih dibutuhkan sepasang manusia yang saling menggenapi. Rasa percaya misalkan, sepasang manusia bisa saja bertahan hidup bersama tanpa rasa cinta. Tapi tanpa rasa percaya? Ah, kamu cari tahu saja penyebab kenapa sepasang manusia yang sudah menggenap sekian lama memilih untuk bercerai. Alasan yang paling banyak bukan karena sudah tidak cinta, tapi sudah tidak lagi percaya.”
“Jadi, tak perlulah banyak-banyak memikirkan cinta. Penting, tapi masih banyak yang lebih penting. Membuat bahagia, tapi masih banyak yang lebih membahagiakan. Tenang saja, kita hanya harus berusaha untuk menggapai apa yang kita harapkan. Biarkan Allah yang Maha Baik yang memutuskan, kalaulah itu baik bagi kita, Allah akan mempertemukan kita dengan siapa yang kita harapkan. Kalaulah Allah tidak mempertemukan, berarti Allah akan menggantinya dengan seseorang yang lebih baik.”
***
Aku masih ingat senyum mama mengakhiri pembicaraan kami waktu itu, dan betapa benar adanya apa yang Mama katakan itu. Cinta bukanlah satu-satunya rasa penghuni hati. Seperti yang sedang aku rasakan sekarang, terhadap kamu. Entahlah, apakah kita boleh membenci seseorang yang kita cintai? Nyatanya, aku sedang membenci kamu, yang melupakan begitu saja hari ulang tahunku.
.... bersambung ke part-2
___ Genap, Nazrul Anwar
===================
Seandainya kamu dihadapkan pada dua pilihan, siapa yang lebih kamu pilih untuk menggenapi kehidupan kamu? Seseorang yang kamu cintai tapi dia tidak mencintai kamu, atau seseorang yang mencintai kamu tapi tidak kamu cintai?
***
Itu pertanyaan Mama sebelum Tuhan mempertemukan aku dengan kamu. Pertanyaan di masa sulit ketika aku bingung dan gelisah perihal jodoh yang tak kunjung tiba, padahal sudah dua kali aku gagal berproses dengan laki-laki yang aku harapkan bisa menggenapiku. Pertanyaan yang baru aku mengerti maksud dan jawabannya setelah hidup menggenap bersama kamu. Siapapun ingin menggenap bersama orang yang dicintainya, pikirku waktu itu. Jadi aku menjawab pilihan yang pertama; menggenap bersama seseorang yang aku cintai walaupun orang tersebut tidak mencintai aku. Dan Mama hanya tersenyum mendengar jawabanku.
“Kamu tahu, kebanyakan orang mengharapkan sosok yang ideal untuk menggenapi hidupnya. Sosok ideal yang biasanya menjelma menjadi seseorang yang dicintai atau seseorang yang diharapkan. Sayangnya, kita tidak hidup dalam dunia harapan. Kita hidup dalam dunia yang bernama realitas. Dan tidak semua harapan bisa hidup dalam realitas. Jadi jika semua perempuan berharap seorang laki-laki yang dicintainya akan menggenapinya, realitasnya tidak semua laki-laki yang diharpakan oleh perempuan, menikahi perempuan yang mengharapkannya. Nah, pertanyaan mama tadi adalah salah satu contoh kondisi yang tidak ideal, tapi ada banyak orang yang harus menghadapi realitas seperti itu.”
“Idealnya, sepasang laki-laki dan perempuan yang akan saling menggenapi memang sudah siap untuk saling mencintai sepanjang usia mereka. Tapi realitasnya, tidak semuanya seperti itu. Ada yang ngakunya saling mencintai sejak lama, tapi karena terlalu lama menjalin cinta sebelum menggenap, cintanya habis di tengah perjalanan, tidak sampai pada pelaminan. Ada yang sampai pelaminan, tapi tidak sampai sepanjang usia. Berpisah di tengah jalan. Mama hanya ingin bilang, kalau setiap orang akan mengalami kondisi tidak ideal dalam hidupnya, Sayang. Hanya bentuknya saja yang berbeda-beda. Kamu, tak terkecuali. Jadi tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Toh hidup bukan permasalahan ideal atau tidak, tapi tentang bagaimana kita menjalaninya.” Mama mencoba menghibur aku
“Kalau misalkan Mama yang berada pada kondisi seperti pertanyaan Mama tadi, mana yang akan Mama pilih?” aku balik bertanya penasaran.
“Menggenap bersama seseorang yang mencintai mama, walaupun mama tidak mencintainya.” Mama menjawab dengan tenang dan yakin, aku semakin penasaran dengan alasan Mama.
“Kenapa begitu, Ma?”
“Karena berusaha untuk mencintai orang lain, selalu lebih mudah daripada membuat orang lain mencintai kita, Sayang. Cinta itu adanya di hati. Hati yang merasakannya. Dan kita hanya bisa mengendalikan dan mengkondisikan hatinya kita, bukan hatinya orang lain. Seberapa besarpun usaha kita untuk membuat orang lain mencintai kita, pada akhirnya yang memutuskan apakah dia mencintai kita atau bukan ya dia, bukan kita. Hatinya yang merasakan, bukan hatinya kita. Sama halnya, jika ada seseorang yang melukai hati kita, membuat kita kecewa atau sederet perasaan menyakitkan lainnya, pada akhirnya, kita sendiri yang harus menyembuhkan luka itu. Tak perlu menunggu ucapan maaf, atau mengharapkan orang lain yang menyembuhkannya. Karena sekali lagi, yang bisa kita kendalikan adalah hati punya kita sendiri. Bukan hatinya orang lain.”
“Lagipula, cinta hanyalah salah satu bentuk perasaan yang ada di dunia ini. Bukan satu-satunya. Bahkan bisa jadi, ada perasaan lain yang jauh lebih penting daripada cinta, ada rasa lain yang lebih dibutuhkan sepasang manusia yang saling menggenapi. Rasa percaya misalkan, sepasang manusia bisa saja bertahan hidup bersama tanpa rasa cinta. Tapi tanpa rasa percaya? Ah, kamu cari tahu saja penyebab kenapa sepasang manusia yang sudah menggenap sekian lama memilih untuk bercerai. Alasan yang paling banyak bukan karena sudah tidak cinta, tapi sudah tidak lagi percaya.”
“Jadi, tak perlulah banyak-banyak memikirkan cinta. Penting, tapi masih banyak yang lebih penting. Membuat bahagia, tapi masih banyak yang lebih membahagiakan. Tenang saja, kita hanya harus berusaha untuk menggapai apa yang kita harapkan. Biarkan Allah yang Maha Baik yang memutuskan, kalaulah itu baik bagi kita, Allah akan mempertemukan kita dengan siapa yang kita harapkan. Kalaulah Allah tidak mempertemukan, berarti Allah akan menggantinya dengan seseorang yang lebih baik.”
***
Aku masih ingat senyum mama mengakhiri pembicaraan kami waktu itu, dan betapa benar adanya apa yang Mama katakan itu. Cinta bukanlah satu-satunya rasa penghuni hati. Seperti yang sedang aku rasakan sekarang, terhadap kamu. Entahlah, apakah kita boleh membenci seseorang yang kita cintai? Nyatanya, aku sedang membenci kamu, yang melupakan begitu saja hari ulang tahunku.
.... bersambung ke part-2
___ Genap, Nazrul Anwar
Langganan:
Postingan (Atom)