Jumat, 14 Februari 2014

#Terimakasih

Ini Tulisan Dosenku....menjadi rangkaian cerita di HIMAHIku sayang...HIMAHI

Terimakasih.
Kamis, 13 Pebuari 2014, hari yang sangat unik. Tepat pk 19.51 aku menerima sms dari seseorang yang tidak aku kenal: ‘Terimaksih banyak kepada bapak Aspiannor...aku bisa mendapat gelar SIP. Aku sekeluarga mengucapkan banyak terimaksih...aku doakan semoga cepat sembuh’. Dengan penasaran saya bertanya: mohon maaf, siapa?... Rudy...ingatan ku kembali ke belakang runtunan peristiwa...maklum terlalu banyak mahasiswa di sekitar ku....kwkwkwkwkwkwkwkw...oh...seorang mahasiswa bimbingan ku dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Bayangan ku pun melayang...perjuangan mereka selama pembuataan skripsi, begitu banyak memori yang tidak cukup untuk dicerikan dalam tulisan ini...satu hal yang ku ingat, begitu kuatnya perjuangan yang dilakukan mereka selama ini, termasuk Rudy dengan berbagai keterbatasan mereka dapat melaluinya... Sayang aku tidak bisa menghadiri moment penting yang bagi Rudy dalam meraih cita citanya karena ada sesuatu yang penting harus aku kerjakan dalam waktu bersamaan...aku hanya bisa mengucapakan...AMIEN... SELAMAT...SUKSES YA... Sambil tersenyum aku teringat... paginya, pk 11.00... aku baru saja mengucapkan kata tersebut dihadapan para pengurus Himahi Unifa agar mereka belajar untuk berterimaksih...TERIMAKSIH...hanya satu kata, namun penuh dengan makna.. begitu banyak orang tidak bisa belajar dari kata ini...dan begitu sulit orang untuk mengucapkannya... Kenapa?...ketika seseoang meraih kesuksesan, egonya pun muncul kepermukaan...merasa menjadi orang penting, sehingga takut dianggap tidak memiliki kemampuan...takut kalau dikatakan tidak punya ide...takut kalau dianggap hanya sebagai pekerja...takut kalau ada yang tahu adanya sentuhan orang orang yang mengantarkan kesuksesannya ... sehingga, orang orang ini dalam bahasa kerennya disebut ‘Kacang lupa kulitnya’...eh...bahasa premannya...’tidak tahu diri’...heheeeeeeeeeeeeeeeeeee...Padahal semuanya tidak terlepas dari PROSES...dalam proses tentunya tidak berdiri sendiri...ada sentuhan banyak orang yang mengantarnya... SATU HAL YANG ADA DALAM BENAK MEREKA... ‘PENTING’... satu kata yang selalu menyerumuskan orang ke alam kemunafikan...menjadikan orang seperti ‘katak dalam tempurung’, merasa besar tapi hanya di dalam ruang kecil...karena mereka tidak tahu alam di luar yang sangat luas dan kejam...bahkan keberadaan mereka ibaratnya hanya setetes air di samudra luas....Atau mungin orang yang over percaya diri sudah mulai kehilangan etika dalam hubungan sosialnya, sehingga kata TEIMAKASIH sangat sulit diucapkan...dan kata...PENTING yang ada di miedset mereka...Hari ini aku bisa belajar banyak dengan hanya satu kata...TERIMAKSIH...kata yang dapat mengigatkan aku arti pentingnya orang orang di sekitar ku selama ini...PEMBELAJARAN YANG TIDAK TERLUPAKAN HARI INI, AKU MULAI MENGENAL KARAKTER ORANG....TAHU BERTERIMAKASIH... BARU MAU BELAJAR BERTERIMAKASIH...TIDAK TAHU BERTERIMAKSIH. TIDAK SEPERTI AKU YANG SELALU DIHAMPIRI...TERIMAKASIH...TERIMAKASIH...TERIMAKASIH....PROYEK 3 M ALIAS GRATIS HABIS BO...Hahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...SELAMAT RUDI YANG TELAH MENYANDANG GELAR SIP... DARI KEJAUHAN (POLIWALI) ANDA MASIH SEMPAT MENGUCAPKAN... TERIMAKASIH...MORE BLESSING WITH YOUR FAMILY

Rabu, 12 Februari 2014

#Kisah Himpunan HIku

Setelah tes usia mental disinih http://www.mbti123.com/mental/id/, usia mentalku lebih tua tiga tahun dari Usia sebenarnya. dan itu artinya saya bisa menerima hal lain yang tidak sesuai dengan inginku. iya, menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan. 

Beberapa minggu ini himpunanku seperti tidak  terarah. Saya selalu memposisikan diri sebagai orang tua di Himpunan sebagai orang tua saya merasa gagal mengkader adek adekku...Wah, ternyata jadi orang tua itu harus punya kesabaran tinggak dewa dan tentunya bergabung dalam himpunan adalah pilihan sadarku. Saya menyenangi dunia mengkader diamana saya melatih dan saya dilatih. Dunia pengkaderan adalah dunia belajar mengukur diri, meihat potensi diri dan orang lain dan bekerjasama. 

Yah… menjadi orang tua dihimpunan saya meihat Bahwa pemahaman seorang anak  ketika mereka beranjak dewasa yang punya dunia sendiri merasa bahwa orangtua selalu ikut campur pada setiap keputusan mereka.  di himpunan saya punya sosok dosen yang beliau tidak hanya mengajar tapi mendidik, beliau mendidik juga dengan teladan. Beliau  memutuskan mengarahkan himpunan dan terjun langsung tahun 2012 dua tahun perjalanan himpunanku sejak 2010. Beliau memposisikan diri sebagai orangtua  dan mahasiswa adalah anak- anaknya yang bisa ia marahi. Tapi bukan marah tanpa sebab. saya salah besar menggunakan bahasa ‘’marah’’ yang lebih tepatnya ''dibina''.  
Tapi adeku – adeku selalu merasa bahwa mereka tak pernah ada benarnya,selalu dimarahi. dan beliau adalah monster. 
 Waduh panjang ini ceritanya. Dari semua kejadian saya hanya ingin mengambil hikmah-hikmahnya.

1.    Inti memulai sesuatu adalah niat. Niat menjadi tolak ukur kerja kita. Ada atasan, ada banyak orang kita terus saja melakukan sesuatu karena sebenarnya saya akan mempertanggungjawabkannya pada ALLAH swt. Bukan pada siapa –siapa.
2.    Manusia memang membutuhkan pujian. Tapi jika pujian itu hanya akan mengkerdilkan diri maka pujian itu sebenarnya sedang menghancurkan saya. 
3.    Pujian dan hinaan sebenarnya efek, hanya efek dari kerja – kerja saya.
4.    Himpunan memang bukan segala – galanya tapi saya memulai segalanya dari himpunan.
5.    Bagaimana saya bisa diberi kepercayaan kalau saya tidak bisa dipercaya, bagaimana saya bisa diberi tanggungjawab kalau saya tidak bertanggungjawab
6.    Semua itu di mulai dari yang terkecil dimulai dari diri sendiri.
7.    Bagaimana saya bisa mengubah orang – orang di sekelilingku kalau saya tidak bisa merobah diri sendiri.
8.   Oh iya jangan pernah merasa bahwa kitalah yang banyak berkorban, yang banyak mengeluarkan uang, yang paling capek, yang paling baik, yang paling rajin, hahhahah…….
9.    Jangan suka mengkambing hitamkan sesuatu atas ketidak sanggupan kita 


Ah… Himpunan apapun yang terjadi terimakah sudah mendewasakan mentalku. Kalau di dunia kerja nanti saya suka  dibagian pelayanan, sumber daya manusia…Amin..


#Rima, masalah mendatangkan makna Kehidupan

"Hindari masalah, dan kamu tidak akan pernah jadi orang yang memecahkannya"
- Richard Bach

Dear Rima, temanku yang teguh hatinya...

Bagi seekor burung rajawali, satu-satunya hambatan untuk terbang lebih cepat dan nyaman adalah udara.
Tetapi jika udara itu diambil dan burung tersebut dibiarkan terbang dalam kehampaan tanpa udara, burung
rajawali itu segera jatuh ke tanah dan tidak dapat terbang sama sekali. 

Hambatan utama yang harus diatasi oleh sebuah perahu bermotor adalah air yang menyentuh baling-baling
perahu. Tetapi jika tidak ada air sebagai penahan, perahu ini justru tidak dapat bergerak sama sekali.
Hukum yang sama juga berlaku bagi kehidupan manusia. Hambatan adalah kondisi yang 'harus ada' bagi
kesuksesan. Sebuah kehidupan yang terbebas dari hambatan dan kesulitan akan mengurangi semua kemungkinan dan daya sampai ke titik nol. Larilah dari masalah Anda jauh-jauh, dan kehidupan Anda akan kehilangan daya kreatif! Masalah kesehatan yang parah bisa memberikan makna pada dunia pengobatan. Masalah kekacauan sosial bisa memberi makna pada kebijakan pemerintah. Kita semua memiliki kecenderungan ingin terbebas dari semua masalah dan tanggung jawab. Ketika masalah datang, berikanlah makna baru pada permasalahan itu. Sebuah beban kehidupan yang paling berat adalah pada saat kita tidak memiliki apapun untuk dibawa. 

-AHIRA

#Komitmen untuk Berkomitmen

"Ada perbedaan antara minat dan komitmen. Saat Anda tertarik melakukan sesuatu, Anda mengerjakannya hanya jika situasi mengizinkan. Tetapi saat Anda berkomitmen melakukan sesuatu, Anda tidak menerima alasan, hanya hasil" -  Anonim

Dear Rima, 

Jika usaha Anda belum membuahkan hasil, bisnis Anda belum menghasilkan keuntungan yang Anda harapkan, atau hubungan dengan pasangan yang tengah goyah, ingatlah kembali pada komitmen awal pada saat Anda menetapkan tujuan. Berpegang teguhlah pada komitmen tersebut. 

Sebuah tujuan yang gagal, proyek yang tidak selesai, hubungan yang putus, diakibatkan patahnya
sebuah komitmen. Sesederhana itu,sedalam itu, dan sepenting itulah sebuah komitmen. Sukses adalah hasil menciptakan dan menjaga komitmen Anda dan orang lain. Sebuah tujuan tidaklah relevan, mimpi tak ada gunanya dan harapan tidaklah lebih dari sebuah gelembung mimpi, sampai Anda berkomitmen penuh untuk
mewujudkannya. Komitmenlah yang menginspirasi  Anda mengeluarkan kemampuan terbaik Anda.

Komitmen memperlihatkan kepada dunia keseriusan Anda dalam bertindak. Komitmen juga melindungi serta
menguatkan kredibilitas dan reputasi Anda. Komitmen memberikan Anda energi, momentum yang tak pernah
berhenti, dan rasa bangga yang tak ternilai. Komitmen juga memberikan kekuatan. Tidak peduli apa pun yang kita hadapi, sakit, kemiskinan, atau bencana, kita tidak akan teralih dari tujuan kita.

-AHIRA

Sabtu, 08 Februari 2014

#Keluarga Berencana

Punya banyak anak itu banyak rezeki beritanya. Tapi jaman sekarang banyak anak itu bikin susah. Belum lagi kebutuhan sehari – hari yang terus saja melonjak. Belum lagi tingkat stress yang meningkat. begitu katanya. Ketika Pemerintah mengeluarkan kebijakan keluarga berencana saya fikir sebuah cara yang bijaksana agar keluarga belajar mengatur rencananya tentang jumlah anak, mau dua, tiga, enam, duabelas yang penting direncanakan dengan baik jarak antara anak satu dengan yang lainnya, agar kebutuhan sikecil terpenuhi. Tapi yang penting adalah motivasi berkeluarga. Buat apa?. Bahwa berkeluarga itu adalah ibadah sehingga apapun yang terjadi diperjalanan adalah sebuah konsekwensi logis atas  pilihan sadar. bahwa punya banyak anak sebenarnya  sedang turut berkontribusi membangun kemenangan.

‘’Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para nabi nanti pada hari kiamat.’’(Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Konfigurasi Politik Global Abad ini salah satunya akan bicara tentang Demografi. Ketika negara – negara adikuasa membatasi angka kelahiran bahkan  berencana untuk tidak mempunyai anak. Yang terjadi adalah tingkat usia produktifnyapun berkurang yang ada hanyalah orang – orang usia lanjut. Sekarang kita harus berterima kasih pada orang tua yang punya banyak anak bahwa demografi usia produktif negara – negara Islam semakin meningkat dan hal ini menjadi   kekuatan politik, social, budaya yang menjadi sebuah kekuatan tandingan paling berat yang dihadapi Barat.

Well,, saya pun belum berkeluarga saat menulis cerita ini. Tapi saya sedang membuat sebuah pendapat bahwa punya banyak anak bukanlah sebuah fantasi seksualitas yang berlebihan tapi kembali pada niat awal membangun bahtera keluarga. Bahwa motivasi berkeluarga bukan hanya sekedar memadu cinta tetapi sebuah ibadah. sebuah kontribusi membangun kemenangan Islam yang dimulai dari membentuk keluarga islami.
Mengenai  jumlah anak saya fikir itu pilihan. J


Senin, 03 Februari 2014

Kepercayaan Perekat Hubungan

"Perekat yang menyatukan suatu hubungan, termasuk hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin adalah
kepercayaan, dan kepercayaan itu dibangun atas dasar integritas." - Brian Tracy

Dear Rima yang amanah, 

Kepercayaan adalah fondasi dari semua hubungan. Hubungan kerja, bisnis, kepemimpinan dan tentu saja cinta dibangun atas dasar kepercayaan. Tanpa itu, sebuah hubungan tak akan berjalan, sebuah organisasi pun akan kacau. Bayangkan jika Anda berada dalam sebuah lingkungan, hubungan atau organisasi tanpa  kepercayaan, para pekerjanya saling curiga satu sama lain dan para atasannya berusaha mempertahankan posisinya masing-masing dengan segala cara. Organisasi seperti itu sangat rapuh dan tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Rima, sebagai seorang pemimpin, Anda harus menginvestasikan banyak waktu untuk membangun kepercayaan dari bawahan atau pengikut Anda. Kepercayaan itu sebenarnya dibangun atas fondasi sederhana. Jalanilah
kehidupan dengan penuh integritas dan hormati orang lain. Konsistensi dalam kata dan perbuatan. Melakukan dan menepati apa yang Anda katakan pada orang lain. Sebelum Anda mengharapkan orang lain percaya pada Anda, sebagai pemimpin Anda harus percaya dahulu pada orang lain. Delegasikan  kewenangan Anda pada mereka. Mereka pun akan merasa dipercaya atas kemampuan mereka. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya butuh waktu beberapa detik untuk
menghancurkannya. Belajarlah mempercayai, belajarlah untuk jadi orang yang dipercaya.

Salam hangat selalu dari sahabatmu,
Ahira

Rima, Memimpin adalah Mendengarkan

"Kepemimpinan bagi saya berarti tugas, kehormatan dan negara. Itu berarti karakter dan itu berarti mendengarkan dari waktu ke waktu" - George W. Bush

Dear Rima,
Kebanyakan orang cenderung lebih senang membicarakan dirinya sendiri dibandingkan mendengarkan. Hanya orang-orang  berpengaruh yang memahami nilai luar biasa jadi pendengar yang baik. Seperti yang dikatakan senator Amerika Serikat, Lyndon B. Johnson, Anda tidak akan pernah belajar apa-apa jika Anda terus bicara.

Kemampuan mendengarkan secara cerdas merupakan kunci untuk dapat mempengaruhi orang lain. Mendengarkan memberikan manfaat dalam membangun hubungan, meningkatkan pengetahuan, membangkitkan ide, membangun loyalitas dan menunjukan rasa hormat kepada orang lain. Sekilas mendengarkan orang lain tampak hanya menguntungkan mereka, tetapi dengan menjadi pendengar yang baik, Anda sebenarnya menempatkan diri pada posisi membantu diri sendiri. Melalui mendengarkan, Anda memiliki kemampuan untuk mengembangkan hubungan yang lebih kuat, mengumpulkan informasi berharga dan meningkatkan pemahaman Anda mengenai diri sendiri dan orang lain. 

Herb Cohen, seorang negosiator terbaik dunia mengatakan:
"Mendengarkan secara efektif membutuhkan lebih dari sekedar mendengarkan kata-kata yang disampaikan orang. Mendengarkan menuntut Anda menemukan makna dan pemahaman atas apa yang sedang dikatakan. Lagi pula, makna bukan terletak di dalam kata-kata, melainkan di dalam seseorang."

Rima, jadilah pendengar baik, sebelum
menjadi pembicara yang baik. :-) 

-AHIRA